Pergantian siang dan malam berawal dari rotasi Bumi: planet ini berputar pada sumbunya, sehingga bagian-bagian permukaannya bergantian menghadap Matahari. Saat suatu wilayah menghadap Matahari, wilayah itu mengalami siang; ketika rotasi membawanya menjauh dari arah Matahari, datanglah malam. [1]
Sumbu menandai poros putaran Bumi
Rotasi adalah gerakan Bumi berputar pada sumbunya. Jadi, sumbu bukan gerak lain yang berlangsung terpisah: istilah itu menunjuk poros tempat Bumi berputar. Melalui rotasi inilah setiap daerah di Bumi mengalami siang dan malam. [1]
Bumi berputar ke arah timur. Jika dilihat dari arah utara, putarannya berlawanan arah jarum jam. Arah ini membantu menggambarkan gerak Bumi, sedangkan pergantian terang dan gelap terjadi karena posisi suatu wilayah terhadap Matahari berubah seiring putaran tersebut. [1]
Satu putaran tidak berarti setiap tempat mendapat siang selama 24 jam
Masa rotasi Bumi dalam hubungannya dengan Matahari adalah 24 jam. Namun, itu bukan berarti setiap wilayah mengalami 12 jam siang dan 12 jam malam: panjang siang dan malam dapat berbeda-beda. [1]
Ada pula angka 23 jam, 56 menit, dan 4,091 detik untuk masa rotasi jika dihitung dalam hubungannya dengan bintang. Kedua angka itu memakai acuan yang berbeda: satu terkait Matahari, satu lagi bintang. [1]
Rotasi berbeda dari revolusi
Rotasi adalah putaran Bumi pada sumbunya, sedangkan revolusi adalah peredaran Bumi mengelilingi Matahari. Revolusi berlangsung selama sekitar 365ΒΌ hari dan menjadi faktor utama perbedaan musim antara kedua belahan Bumi; pergantian siang dan malam, sebaliknya, terjadi karena rotasi. [1]
Inti penjelasannya ada pada perubahan arah hadap: ketika Bumi berotasi, suatu wilayah bergantian berada di sisi yang menghadap Matahari dan sisi yang tidak menghadapnya. Dari perubahan itulah siang dan malam datang silih berganti. [1]
Sumber
- [1] Wikipedia bahasa Indonesia β Rotasi Bumi. https://id.wikipedia.org/w/index.php?oldid=27860959&title=Rotasi_Bumi (diakses 2026-10-03).
